Minggu, 20 Januari 2013

RATU KIDUL HANYA SEBUAH MITOS?


Siapakah sesungguhnya Kanjeng Ratu Kidul itu? Apakah dia memang benar-benar ada, atau hanya sebuah mitos ?

Pertanyaan ini pantas timbul, karena Kanjeng Ratu Kidul bukanlah sosok yang dapat dilihat oleh mata orang awam. Hidupnya di alam gaib, dan sukar untuk dibuktikan dengan nyata. Pada umumnya oarang mengenalnya hanya dari tutur kata dan dari semua cerita atau dari film-film, atau mungkin buku dan majalah.
Menurut cerita umum, Kanjeng Ratu Kidul pada mudanya bernama Dewi Retna Suwida, seorang putri dari Pajajaran, anak Prabu Mundhingsari, dari istrinya yang bernama Dewi Sarwedi, cucu Sang Hyang Saranadi, cicit Raja siluman di Sigaluh.

Sang putri melarikan diri dari keraton dan bertapa di gunung Kombang. Selama bertapa ini sering nampak kekuatan gaibnya, dapat berganti rupa dari wanita menjadi pria atau sebaliknya. Sang putri wadat (tidak bersuami) dan menjadi ratu diantara makhluk halus seluruh pulau jawa. Istananya didasar samudra indonesia. Tidaklah mengherankan, karena sang putri memang mempunyai darah keturunan dari makhluk halus.
Diceritakan selanjutnya, bahwa setelah menjadi ratu sang putri lalu mendapat julukan Kanjeng Ratu Kidul Kencanasari. Ada juga sementara orang yang menyebut Nyai Lara Kidul atau Nyi Roro Kidul, namun menurut penulis, dua nama itu merupakan dua pribadi yang berbeda. Nyi Lara/Rara Kidul itu adalah dayang dari Kanjeng Ratu Kidul.

Dikisahkan, bahwa Dewi Retna Suwida yang cantiknya tanpa tanding itu menderita sakit budhug (lepra). Utuk mengobatinya harus mandi dan merendam diri didalam suatu telaga, di pinggir samudra. Konon pada suatu hari, tatkala akan membersihkan muka sang putri melihat bayangan mukanya di permukaan air. Terkejut karena melihat mukanya yang sudah rusak, sang putri lalu terjun kelaut dan tidak kembali lagi ke daratan, dan hilanglah sifat kemanusiaannya serta menjadi makhluk halus.
Cerita lain lagi menyebutkan bahwa sementara orang ada yang menamakannya Kanjeng Ratu Angin-angin. Sepanjang penelitian yang pernah dilakukan dapat disimpulakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul tidaklah hanya menjadi ratu makhluk halus saja melainkan juga menjadi pujaan penduduk daerah pesisir pantai selatan, mulai darah Jogjakarta sampai dengan Banyuwangi.
Di Pacitan ada kepercayaan larangan untuk memakai pakaian berwarna hijau gadung (hijau lembayung), yang erat hubungannya dengan Kanjeng Ratu Kidul. Bila ini dilanggar, konon orang akan mendapat bencana.

BENARKAH KANJENG RATU KIDUL HANYA MITOS ?

Beberapa bulan yang lalu, di FB saya sering membaca comment-comment rekan-rekan, yang menyatakan bhw Kanjeng Ratu Kidul hanyalah mitos, ada pula yang meyakini keberadaannya namun meyatakan bahwa manusia jaman sekarang itu tidak pernah ada satupun yang bisa menemui Kanjeng Ratu Kidul.
Saya masih teringat waktu kecil dulu, saat duduk di bangku SD, ketika menanyakan kepada Eyang saya akan keberadaan Tuhan.
Saya                :Eyang, Tuhan menika janipun wonten saestu menapa mboten to, yang ? ”
Eyang saya      :Kowe pengin ngerti, apa pengen weruh ? “
Saya                :Menawi pengen ‘ngerti’ kados pundi, menawi pengen ‘weruh’ kados pundi
Eyang ? “
Eyang saya      :Nek kowe pengen ngerti, maca a neng Kitab2 suci. Neng kono disebutake
Nek Tuhan kuwi ana. Nek pengen weruh, ya golekana dhewe … “
Saya                :Lha menapa saged, eyang, kula kepanggih kaliyan Tuhan ? “
Eyang saya      :Isa ….. “

Semenjak saat itu, saya menjadi seorang yang tidak mudah untuk mempercayai keberadaan akan sesuatu dan tidak mudah untuk mengatakan sesuatu itu ‘ada’ atau ‘tidak ada’. Jika saya belum tahu atau belum mengerti, saya lebih suka untuk mengatakan BELUM TAHU daripada mengatakan TIDAK ADA.
Dua kalimat yang berbeda maknanya, belum tahu itu memang menyatakan bahwa hingga saat itu saya memang belum mengetahui kebenarannya, dan tidak ada itu adalah kalimat yang memastikan bahwa hal tersebut memanglah tidak ada.

Awal mula saya mendengar cerita ttg Kanjeng Ratu Kidul

Bapak dan pakdhe saya, adalah pribadi-pribadi yang gentur bertapa sejak sebelum sekolah. Hingga saya dewasa pun beliau-beliau masih sering bertapa ke tempat-tempat tertentu, kadang bersama-sama, kadang sendiri-sendiri.
Cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul saya dengar pertama kali dari bapak saya. Bapak bahkan menceritakan, bahwa semenjak tahun 1960 an, Kanjeng Ratu Kidul telah ‘ikut’ pakdhe saya. Memang tahun-tahun itu, pengikut pakdhe saya banyak sekali. Rumahnya tak pernah sepi dari tamu. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, karena pakdhe saya menganggap bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang kurang baik buat perkembangan spiritualitas beliau, makanya beberapa tahun kemudian pakdhe saya ‘berpisah’ dengan Kanjeng Ratu Kidul dan kembali ke kehidupan spiritualitas sebelum-sebelumnya.
Ketika saya duduk di bangku SMP, saya sering ndherek pak dhe dan bapak bertapa, namun biasanya hanya 2-3 hari saja, mungkin dengan pertimbangan karena ada anak yang masih sekolah yang ikut dalam acara tersebut.
Apalagi ketika saya duduk di bangku kuliah, saya bahkan hampir-hampir tidak pernah mengikuti kuliah hanya karena ingin ikut pakdhe dan bapak saya bertapa. Bahkan karena sejak kecil saya sering ikut, jika pakdhe ingin pergi bertapa, selalu bertanya kepada bapak saya, apakah saya akan ikut atau tidak, jadi meskipun kadang ada juga perasaan males, namun karena sungkan kepada pakdhe, akhirnya terpaksa saya ikut juga.

Pertemuan saya dengan Kanjeng Ratu Kidul

Hingga saat saya sdh berkeluarga, entah sudah berapa puluh kali saya ikut pakdhe bertapa, namun yang pasti, sekalipun saya belum pernah pergi nepi sendirian.
Saat itu terlintas dalam benak saya untuk mencoba pergi sendiri tanpa mengajak atau ditemani siapapun.
Setelah membulatkan tekad, saya memulainya dengan pergi ke sareyan Eyang saya di Cantung, Tegalsari, Semarang, mbah brintik bergota, Semarang. Hingga suatu saat saya terpaksa untuk pergi ke Goa Langse untuk menemui Kanjeng Ratu Kidul, guna membuktikan sesuatu kepada istri saya.
Sebenarnya jika hanya sekedar ingin ‘melihat’ Kanjeng Ratu kidul, tidak usah menuju ke Goa Langse pun bisa. Cukup datang saja ke Parangkusuma, di situ ada batu besar yang tiap pagi dan sore dipakai Kanjeng Ratu Kidul dan Sultan Agung untuk bercengkrama. Namun karena saya ingin mencari tempat yang lebih sepi, bebas dari gangguan, akhirnya saya menetapkan Goa Langse sebagai tempat untuk lelaku.
Sampai di Goa Langse waktu itu masih sore, saya masuk dan ternyata di sana saat itu sudah ada orang yang berjualan mie instan dan kopi/teh di dalam. Padahal dulunya tidak ada.

Hari itu sepi tidak ada pengunjung. Menurut mbok yang berjualan, biasanya tempat tersebut rame kalau malam jumat kliwon. Hari itu kebetulan hari rabu wage, jadi kurang lebih besok malam nya orang-orang pada berdatangan.
Sore itu saya mencari tempat yang agak di dalam, supaya jika ada tamu lain yg datang saya tdk terganggu. Tempatnya begitu gelap dan lembab, sampai-sampai saya tdk bisa melihat apapun yang berada di dekat saya. Di langit-langit gua terdengar banyak suara-suara binatang, entah kelelawar atau walet, saya tidak tahu secara pasti. Konon, Goa Langse ini adalah tempat pertemuan antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Saya melewati malam itu hingga pagi menjelang tanpa mengalami atau bertemu dengan apapun …
Paginya saya duduk di pinggir goa sambil menyaksikan keindahan ombak Laut Selatan yang berdeburan keras sambil sesekali saya bersamadhi. Entah pukul berapa saat itu, yang jelas sebelum tengah hari, tiba-tiba saya melihat sosok perempuan cantik keluar dari samudra, mendatangi dan duduk di pangkuan saya. Dia kemudian melingkarkan tangannya ke leher saya dan mencium pipi saya. Saya sempat beberapa saat terpaku dengan keadaan ini, namun tidak lama. Sesudah berbicara seperlunya, lalu saya mohon diri kepada wanita tersebut, yang ternyata adalah Kanjeng Ratu Kidul

Melihat saya berkemas-kemas, si mbok yang berjualan di tempat itu bertanya, “ Lho kok kesesa kondur, mas, wong nembe sedalu, kok … Di entosi sekedhap malih kan kathah ingkang sami rawuh wong mangke dalu kan malem jumat kliwon ? “. Saya tersenyum sambil menjawab seperlunya, lalu saya berjalan menyusuri tebing goa dan kemudian naik ke atas dengan menggunakan tangga dari bambu yang memang di sediakan untuk keperluan tersebut …

0 komentar:

Posting Komentar